lingkungan

mendukung berbagai program perlindungan lingkungan

green turtle hatching going to the ocean

Penyu Hijau di Pulau Derawan, Kalimantan, Indonesia.

Kami memegang teguh komitmen untuk melindungi manusia dan lingkungan di mana pun kami beroperasi. Melindungi manusia dan lingkungan adalah bagian yang tak terpisahkan dari The Chevron Way. Kepatuhan terhadap The Chevron Way menandakan bahwa kami menjalankan kegiatan usaha dengan bertanggung jawab baik secara sosial maupun etika, menaati peraturan dan hak asasi manusia, menjaga lingkungan dan memberikan manfaat kepada masyarakat di wilayah kami beroperasi.

Di Indonesia dan di dunia, Chevron mengelola operasi minyak dan gas bumi sesuai dengan hukum dan aturan lingkungan yang berlaku, serta mengikuti standar industri global. Kami menerapkan standar yang sama dan praktik pengelolaan lingkungan terbaik, serta terus berupaya mengurangi jejak karbon sekaligus meningkatkan kinerja sosial dan lingkungan. Kami telah berinvestasi dalam beberapa program lingkungan yang disetujui oleh pemerintah, dan telah diakui sebagai industri terkemuka yang mengurangi emisi udara, air terproduksi, serta limbah padat yang berkaitan dengan operasi kami.

Kami telah berhasil mengurangi 70 persen emisi udara dari kegiatan operasi dalam sepuluh tahun terakhir, dan telah memulai proyek untuk mengurangi buangan air terproduksi. Di lapangan Minas, kami mempraktikkan operasi nihil air buangan yang dikenal dengan zero water discharge, atau Zewadi, yakni menyuntikkan air terproduksi ke dalam bumi untuk menghasilkan lebih banyak minyak bumi dan bukan membuangnya ke lingkungan. Dengan menerapkan Zewadi, Chevron Indonesia telah berhasil memenuhi dan melampaui peraturan Pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk konservasi lingkungan. Pada akhir 2017, kami menerima penghargaan Sustainable Business Award Indonesia (SBA-I) untuk kategori Pengelolaan Air Terbaik (Best Water Management). Kami memfokuskan program investasi sosial pada keanekaragaman hayati dan konservasi lingkungan, dengan penekanan pada aktivitas yang dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi setempat. Kami mendukung berbagai program rehabilitasi dan konservasi di seluruh Indonesia.

memberdayakan kelompok bank sampah

Sampah merupakan permasalahan global yang tidak dapat dihindari. Menyadari pentingnya isu ini, kami turut mendorong terciptanya lingkungan yang bersih, yang sekaligus dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Melalui program pengelolaan bank sampah, kami memberikan pelatihan teknis, pendampingan, pemantauan, dan evaluasi pengelolaan program bagi masyarakat. Tidak hanya itu, kami juga menghibahkan sejumlah perangkat untuk mendukung keberlanjutan program ini.

Bank Sampah Pematang Pudu Bersih merupakan proyek pilot pertama bank sampah berbasis kelompok usaha yang kami dukung sejak tahun 2015 di Kelurahan Pematang Pudu, Mandau, Bengkalis, Riau. Inisiatif tersebut terus kami lanjutkan dengan memberdayakan kelompok-kelompak bank sampah masyarakat lainnya di Minas, Siak, Rumbai dan Bengkalis, semuanya di Provinsi Riau. Program bank sampah ini berhasil membangun kesadaran masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam pengelolaan limbah rumah tangga dan penanganan masalah sampah di wilayah Pematang Pudu.

teknologi dan konservasi gajah

Sebuah model kerja sama multipihak dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dalam hal ini Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dalam program penyelamatan Gajah Sumatra (elephas maximus sumatranus) akan diadakan di Provinsi Riau. Kerja sama ini dirancang untuk membantu mengurangi kerentanan hidup Gajah Sumatra akibat perburuan dan konflik dengan manusia. Upaya konservasi dilakukan secara terintegrasi, mulai dari penyelamatan populasi hingga, yang sering terlupakan, pembinaan habitat satwa hampir punah ini.

Program yang juga didukung oleh Perkumpulan Gajah Indonesia (PGI) ini memanfaatkan teknologi terkini, mencakup pemasangan tiga unit GPS Satellite Collar dan delapan unit kamera jebak (camera trap), pemantauan populasi, serta pembinaan habitat. Pemasangan GPS Satellite Collar bertujuan untuk mengetahui dan memantau pergerakan kawanan gajah melalui satelit, sehingga potensi konflik dengan manusia dapat dimitigasi secara dini. Selain itu, alat tersebut dapat memberikan data awal sebagai dasar penghitungan perkiraan berat badan gajah. Kamera jebak yang dipasang di wilayah perlintasan gajah berguna untuk memberikan informasi fisik gajah melalui rekaman visual.

Gajah Sumatra. Dokumentasi: Sunarto

Gajah Sumatra. Dokumentasi: Sunarto

menyelamatkan ekosistem mangrove

Ekosistem hutan mangrove merupakan ekosistem penting di kawasan pesisir. Diperkirakan 80 persen hasil ikan tangkap di dunia bergantung pada hutan mangrove, baik secara langsung maupun tidak. Akar tanaman bakau yang rapat dan lingkungan vegetasi di sekitar hutan bakau berperan penting untuk menyaring air dari kotoran dan polutan lainnya.

Menyelamatkan ekosistem mangrove

Dokumentasi: YKAN

Sebagai upaya kami untuk membantu keberlangsungan ekosistem mangrove, kami menjalin kerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), organisasi afiliasi The Nature Conservancy (TNC) di Indonesia melalui program Mangrove Ecosystem Restoration Alliance atau Aliansi Restorasi Ekosistem Mangrove (MERA). Aliansi ini merupakan sebuah program kemitraan yang bekerja sinergis yang bertujuan untuk menyelamatkan dan melestarikan hutan mangrove. Program kerja MERA berlandaskan kajian ilmiah yang kuat sebagai acuan untuk membuat rencana desain restorasi hutan mangrove.

Melalui MERA, Chevron mendukung upaya pelestarian ekosistem mangrove di perairan teluk Jakarta. Dan sebagai langkah selanjutnya, program in akan direplikasi di wilayah hutan bakau pesisir Provinsi Riau, tepatnya di Kota Dumai dan Kabupaten Bengkalis. Kontribusi kami pada restorasi penyelamatan kawasan pesisir pantai dapat berdampak positif secara ekologis, sosial, dan ekonomi.

Program ini juga mendukung adaptasi dan mitigasi terhadap bencana serta sejalan dengan UN SDG (Sustainable Develpoment Goals) Life Below Water, dan Partnership for the Goals dimana menghidupkan kembali kemitraan global demi pembangunan berkelanjutan.

rehabilitasi hutan

Sejak tahun 2003, kami telah berhasil menanam kembali sekitar 20 acre (80.000 meter persegi) hutan bakau di area Penajam, Balikpapan selatan. Kami juga memainkan peran penting dalam merehabilitasi Hutan Kota Telaga Sari di Balikpapan. Kami membantu pendirian Pusat Pendidikan Hutan Telaga Sari, yang saat ini dikelola oleh 18 sekolah lokal. Kami juga berpartisipasi dalam prakarsa penanaman pohon: sebanyak 5.000 pohon asli setempat telah ditanam di hutan kota. Pada tahun 2013, kami mendirikan pusat pembibitan pohon untuk menjamin pasokan bibit pohon yang sehat.

Melalui kemitraan dengan Conservation International dan organisasi-organisasi lokal di Jawa Barat dan Riau, kami mencanangkan program lingkungan berbasis masyarakat yang berkelanjutan selama tiga tahun pada akhir tahun 2015. Program ini berfokus pada pemantauan keanekaragaman hayati, pemberdayaan masyarakat dan penghijauan kembali. Di Riau, Taman Hutan Alam Rumbai merupakan bagian penting dari ekosistem di Riau. Hutan sekunder seluas 400 hektare ini menampung lebih dari 103 jenis satwa dan 120 jenis tumbuhan sejak tahun 1988, menjadikan hutan ini “paru-paru” bagi Kota Pekanbaru.

melindungi satwa langka

Kami bergabung dengan taman nasional dan Jaringan Kemitraan Suaka Elang untuk kami mendirikan Suaka Elang. Suaka margasatwa ini memiliki operasi penyelamatan elang serta edukasi bagi masyarakat mengenai burung pemangsa dan habitatnya. Kami juga mendukung studi mengenai populasi harimau Sumatra yang terancam punah di wilayah Duri. Melalui proyek Eye of the Forest, kami bekerja sama dengan Conservation International untuk memantau spesies yang terancam punah dan dilindungi seperti macan tutul Jawa.

mencanangkan green corridor

Pada tahun 2011, kami bekerja sama dengan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Yayasan Kehati, dan para mitra setempat untuk mencanangkan program Green Corridor atau jalur hijau untuk membantu mengembalikan lebih dari 1.250 acre (5 kilometer persegi) zona ekologi kritis di kawasan hutan lindung. Program ini memiliki target untuk menanam sekitar 250.000 pohon asli setempat dalam kurun waktu lima tahun.